Remaja juga Perlu Dipahami

Meski butuh mengekspresikan diri, remaja tetap membutuhkan batasan yang jelas sebagai ‘pagar’ moral. Batasan ini hendaknya tidak hanya disampaikan secara lisan oleh orang tua, tetapi juga ditunjukkan melalui teladan hidup.

FISIK. Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang pasti dilewati oleh setiap manusia. Biasanya dimulai sekitar usia 11 hingga 13 tahun (di masa akhir SD), ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Anak perempuan ditandai dengan menstruasi, sedangkan anak laki-laki dengan mimpi basah. Secara biologis, pubertas menandakan bahwa kematangan aspek seksual sudah dimulai dan akan terus berlangsung. Perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa, seperti perkembangan buah dada dan pinggul pada anak perempuan, pertumbuhan jakun pada anak laki-laki.

KOGNITIF. Secara kognitif anak akan mengalami perkembangan dari kemampuan berpikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks. Bagi orang tua, perubahan terasa ketika remaja jadi tidak ‘sepatuh’ biasanya. Remaja mulai ‘menantang’ arahan atau anjuran orang tua, menanyakan apa alasan anjuran tersebut, bahkan mungkin memberikan argumentasi atau bantahan sebagai ekspresi pernyataan terhadap pendapatnya. Kebutuhan untuk mengekpresikan diri juga terkait dengan perkembangan sosio-emosional remaja.

SOSIO-EMOSIONAL. Secara sosio-emosional remaja mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan, tingkah laku, dan gerak-geriknya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang penting dan mungkin sering menjadi sumber adu pendapat dengan orang tua. Kalau dulunya anak menurut saja dengan baju pilihan orang tua, si remaja sekarang memiliki style sendiri, yang biasanya dipengaruhi oleh trend di antara teman sebaya. Ketertarikan dengan lawan jenis juga mulai muncul sebagai konsekuensi logis pubertas.

MORAL. Terkait aspek moral, si remaja meski sudah tampak lebih kompleks dalam berpikir dan menganalisa sesuatu, tetapi sesungguhnya mereka masih dalam proses untuk mematangkan pertimbangan-pertimbangan moralnya. Karena itu, remaja perlu didampingi untuk mengetahui, memilih, dan menentukan nilai, juga prinsip moral yang akan diambil sebagai panduan hidupnya. Sebabnya, perkembangan kemampuan berpikirnya belum diimbangi dengan kemampuan yang matang untuk mempertimbangkan baik-buruk dan benar-salah. Tak heran, orang tua sering melihat bagaimana anak remaja meski sudah tahu yang benar dan baik, namun tetap saja bersikap atau berperilaku sebaliknya.

Dari ke-empat aspek di atas: Fisik, kognitif, sosio-emosional, moral, dapat disimpulkan bahwa para remaja sesungguhnya membutuhkan pendampingan yang berbeda dengan masa kanak-kanak. Pemahaman orang tua mengenai perubahan-perubahan yang sedang dialami remaja akan membuat orang tua dapat memberi respon yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Misal saja terkait pubertas, orang tua dapat memulai pembicaraan personal (ayah dengan remaja laki-laki; ibu dengan remaja perempuan) yang mendiskusikan tentang perubahan-perubahan fisik yang sedang dan akan dialami, lalu bagaimana menyingkapkannya. Tentang kemampuan berpikir, orang tua hendaknya tidak menangkap pertanyaan ‘menantang’ dari anak sebagai sikap kurang ajar, tetapi sebagai konsekuensi logis dari kemampuan berpikir yang sedang berkembang menjadi lebih kompleks. Mau tidak mau orang tua tidak bisa berkomunikasi satu arah saja  dan mengharapkan anak menurut, tetapi membuka ruang untuk remaja boleh mengemukakan pendapat dan pilihannya lalu melakukan negosiasi untuk keputusan terbaik.

Terkait aspek sosio-emosional remaja, diperlukan kebesaran hati orang tua untuk memberi peluang remaja mengekspresikan dirinya, menemukan identitasnya, minat, tetapi tetap dalam batasan norma aturan keluarga yang jelas.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan oleh anak remaja adalah penerimaan tulus yang diimbangi dengan konsistensi disiplin sehingga tumbuh karakter bertanggungjawab dan keberanian untuk terus mengembangkan diri, sebagai bekal memasuki usia dewasa. “There are only two lasting bequests we can hope to give our children. One of these is roots, the other, wings.” – Johann Wolfgang von Goethe. 

20

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *