Ketika Cinta Harus Memilih

“Mencintai adalah komitmen tak bersyarat pada seseorang yang tidak sempurna. Mencintai seseorang bukanlah sekadar perasaan yang kuat, tetapi sebuah keputusan, pertimbangan, dan janji.” (Paul Coelho).

Judul di atas adalah judul film dan novel populer tentang percintaan. Tetapi sebenarnya, secara umum, cinta tidak boleh memilih.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH OBJEKNYA. Cinta kasih yang sejati tidak bisa memilih siapa yang akan dikasihi dan siapa yang tidak dikasihi. Saya mengasihi yang ini, tetapi membenci yang itu. Itu namanya bukan kasih, tetapi pilih kasih. Tidak bisa seseorang berkata ia mengasihi Tuhannya, lalu menyakiti orang yang berbeda dengannya. Cinta kasih akan melampaui segala perbedaan.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH LAMANYA. Apa jadinya kalau orangtua berkata, “Kami mengasihimu hingga usia 15 tahun saja.” Atau suami berkata, “Aku mencintaimu selama kulitmu belum keriput.” Kasih yang sejati tidak memberi batasan waktu. Cinta sejati baru berhenti ketika waktu sendiri yang menghentikannya, yaitu dengan kematian.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH HASILNYA. Kasih memberi tanpa mengharap balasan. Lalu percuma dong?  Agak menyakitkan juga bila kasih tak terbalas? Ada kalanya kita merasa percuma mengasihi dan berbakti pada orangtua yang pilih kasih, mengasihi kakak atau adik kita yang tidak mempedulikan kita. Kadang kita sudah susah-susah menolong teman dalam kesulitan, ternyata bukan ucapan terima kasih yang diterima, melainkan cemooh. Atau kita ragu mengasihi dan berbuat baik pada tetangga, karena belum tentu juga dia akan berbuat yang sama kepadakita. Untuk kasus ini, saya suka dengan jawaban IbuTeresa, “Saya temukan paradoks bahwa bila saya mencintai hingga saya merasa sakit, maka tidak ada lagi rasa sakit itu, tetapi hanya ada cinta yang lebih besar lagi.” Cinta adalah memberi diri bagi orang lain.

CINTA TIDAK BOLEH MEMILIH KONDISINYA. Saya mengasihimu, kalau…… -titik-titik-. Hal itu adalah kontrak bersyarat, bukan cinta sejati.  Seperti ungkapan, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang. Karena itu, saat pernikahan orang berjanji untuk saling mencintai tanpa tergantung kondisi: Dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, susah maupun senang.

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN. Sangat dangkal bila memikirkan Valentine’s Day hanya sebatas bunga, cokelat, atau romantika. Sebenarnya kita ditantang untuk merayakan cinta sejati, yaitu cinta yang kuat, bertahan dalam segala macam badai, dan tanpa syarat (“unconditional love”).

Seorang ibu langsung mencintai bayinya yang baru lahir, tidak peduli bagaimana kondisi bayi tersebut, cantik/tampan atau tidak, pandai atau tidak, nantinya nakal atau tidak; atau bisa jadi sangat merepotkan: membuatnya bangun tengah malam, rewel, menghabiskan banyak uang, energi, dll. Seorang ibu akan tetap mencintai dan memberi, walaupun bayi itu tidak bisa apa-apa.

Orang bertepuk tangan melihat kasih seorang ibu yang tanpa syarat ini. Tetapi bila diminta untuk mengasihi pasangan (suami/isteri) dengan kasih yang demikian, mereka berpikir, “Kok enak benar dia…”  Padahal satu-satunya cara supaya pernikahan bisa berjalan seumur hidup, harus ada kasih tanpa syarat. Kalau kasih bersyarat “tergantung bagaimana ia” maka pernikahan akan bubar di tengah jalan. “Kalau dia cinta, ya saya cinta. Kalau dia baik, ya saya baik. Tapi kalau dia menjengkelkan dan menyakitkan, untuk apa lagi dilanjutkan?”

Apabila kondisinya seperti di atas, mungkin bukan cinta yang kita cari, tetapi kesenangan hidup. Kita jatuh cinta supaya hidup menjadi ceria. Kita mencintai supaya dicintai. Kita mencari pasangan supaya tidak kesepian. Kita menikah supaya ada yang mengurus kita seumur hidup. Tapi kita tidak siap mencintai sampai menderita. Kita lupa bahwa mencintai adalah memberi dengan risiko tidak menerima kembali. Kita tidak sadar bahwa mencintai berarti mengampuni tanpa menghitung kesalahan, dan tetap mengasihi ketika orang tersebut sulit dicintai. Namun, bila Anda memiliki cinta tak bersyarat, sebenarnya Anda telah bebas. Bebas dari kekhawatiran cinta tak terbalas, bebas dari ketakutan disakiti, bebas dari segudang ekspektasi. Akhirnya ini merupakan jalan menuju kebahagiaan cinta.

20

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *