Adakah Berbohong untuk Kebaikan itu?

Integritas selalu diidentikkan dengan kejujuran atau bicara benar. Pastinya, tanpa kita sadari sering mendengar orang mengemukakan alasan-alasan seperti di bawah ini, atau bisa jadi kita sendiri pernah mengucapkannya sebagai pembenaran diri:

“Oh, maaf, saya tidak bisa ikut makan malam bersama karena anjing saya sedang sakit.” (Really? Karena anjing saya masih baik-baik saja dua menit yang lalu).

“Saya tidak bisa datang malam ini, saya sudah punya rencana tentatif lainnya. Tapi kalau mereka membatalkannya, saya pasti akan memberitahu kamu.” (Jadi, kita sedang membandingkan kegiatan atau acara yang lebih seru dibanding undangan darinya).

“Saya betul-betul sedang sangat sibuk sekarang, karena itu saya akan merencanakan segala sesuatu dua minggu sebelumnya.” (Jadi itulah sebabnya saya selalu melihat post-post kamu yang mendadak di sosial media kamu).

Anda melihat polanya? Mengemukakan atau seolah-olah membuat alasan yang bagus, tapi sebenarnya kita sedang berbohong untuk menutupi kekurangan diri sendiri melalui jawaban-jawaban yang “lebih baik, lebih suci” atau “excuses yang halus atau cerdik.”

Berbohong untuk kebaikan memang tidak menyakiti perasaan orang lain, seakan-akan perbuatan itu mulai menjadi habit dengan setting (tanda kutip) “Kebenaran.” Tapi apakah benar itu sebuah kebenaran atau kejujuran? Karena di balik jawaban-jawaban itu sebenarnya saya sedang capai atau malas saja, dan yang saya inginkan saat ini hanya duduk di depan televisi sambil makan, tanpa melakukan apapun.

Saya akui pernah juga melakukannya, berbohong sedikit atau memasukkan kebohongan kecil ke dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika seorang teman bertanya, “Bagaimana kabar kamu?” Dan saya menjawab, “Baik,” padahal yang sebenarnya terjadi saya sedang sedikit pusing akibat pekerjaan kantor yang banyak. Tapi jika saya menjawab jujur seperti itu, “Banyak kerjaan…” seolah saya terlihat tidak keren. Jadi, daripada berkata, “Ya adalah ya dan Tidak adalah tidak” kecenderungan untuk mencampur adukkan sesuatu atau memanipulasi percakapan terlihat lebih hebat dan penting, membuat saya boleh-boleh saja untuk terus melakukannya.

Lalu, apalah bedanya dengan pengertian munafik: Orang yang berpura-pura dalam bersikap agar disetujui, disukai oleh orang lain, terutama di dalam kehidupan pribadi, pendapatnya, atau pernyataan terbuka yang sebenarnya berdusta.

Tapi, ayolah, Eve, jangan terlalu serius. Hal itu tidak salah,” ujar Anda kepada saya. Well, jika rasa percaya (trust) merupakan sesuatu yang penting di dalam sebuah hubungan, maka kejujuran adalah tindakan yang mengiringinya.

Pernah saya diberi pertanyaan seperti ini, “Eve, apakah kamu senang hidup sendiri?” Dulu, pertanyaan ini bersifat sedikit pribadi buat saya, sehingga saat menjawabnya, saya mempunyai definisi tersendiri kepada kelompok-kelompok tertentu: “Senang-senang saja” kepada kelompok orang yang jarang saya temui; “Sejauh ini saya baik-baik saja” kepada kelompok orang yang sering saya temui setidaknya satu kali dalam seminggu; dan “Tidak, saya butuh pria” kepada kelompok orang yang sangat dekat kepada saya. Yah, itu saya yang dulu, memanipulasi jawaban seolah keadaan saya sedang baik-baik saja.

Tapi saya yang sekarang akan menjawab “Tidak masalah” kepada semua orang yang saya temui, baik kelompok yang jarang, sering, maupun teman-teman dekat. Saya berhenti memanipulasi jawaban dan belajar untuk menjawab dengan sesungguhnya. Karena memang saya baik-baik saja sendirian dan tetap merasa hidup itu indah.

Pemahaman ini saya dapatkan saat saya mulai mengetahui siapa diri saya di mata Sang Pencipta, yaitu Tuhan, sehingga apapun yang orang lain pikirkan tentang saya menjadi tidak terlalu penting, yang terpenting apa kata Tuhan tentang saya.

Saya pernah mendengar orang lain berkata begini, “Si Eve terlalu pemilih kali ya, makanya masih sendiri.” Atau “Jangan-jangan dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, karena itu ia masih sendiri sekarang.” (Terlintas di pikiran saya perkataan Taylor Swift bahwa karma itu nyata).

Ya, mereka bisa berkata apapun. Tapi sungguh, saya merasa bahagia dengan kesendirian ini. Saya semakin mempunyai waktu untuk berhubungan dengan-Nya, juga semakin mencintai diri saya sendiri. Saya jadi teringat quote, “People care about people who care about themselves.” Ya, ketika saya menyukai diri sendiri yang seperti ini, saya tahu, orang lain akan menyukai saya juga.

Ide tulisan terinspirasi dari situs www.boundless.org, judul artikel “Integrity in Everyday Communication” oleh dawn.mcbane, tanggal 3 Agustus 2011.
20

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *