Ayah & Saya, Dulu Jauh Sekarang Dekat

Sebuah pertanyan singkat: Bagaimana hubungan kamu dengan ayah saat ini? Apakah kamu termasuk anak yang sangat dekat dengan ayah atau malah merasa canggung?

Di sebuah artikel Science Daily, Dr. Anna Sarkadi dari Department of Women’s and Children’s Health di Uppsala University, Swedia, menyatakan, “Kajian terperinci kami yang berlangsung selama 20 tahun menunjukkan bahwa secara keseluruhan, anak-anak menuai manfaat positif jika mereka memiliki keterlibatan aktif dan teratur dengan sosok ayah. Sebagai contoh saja, kami menemukan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dekat dan melibatkan sosok ayah secara positif akan cenderung untuk tidak merokok dan tidak terlibat masalah dengan polisi. Mereka juga bisa mencapai tingkat pendidikan yang lebih baik, juga pandai berteman.”

Saya akui dulu termasuk anak yang canggung saat berdekatan dengan ayah. Alasan paling sederhananya sih karena saya lebih dekat dengan ibu, sehingga waktu lebih banyak saya habiskan dengan ibu daripada ayah. Demikian juga di rumah, biasanya ayah akan berbicara kepada ibu dulu, baru ibu akan menyampaikannya ke saya. Dan dikarenakan saya tinggal di luar kota, berbeda rumah dengan orang tua saya, untuk mengobrol dengan ayah hanya mampu saya lakukan melalui telepon.

By the way, apakah kamu juga merasakan hal yang sama seperti saya di atas? Ayolah, saya tahu saya tidak sendirian…

Tapi itu kisah dulu… Saat ini saya termasuk anak yang sangat dekat dengan ayah. Semua ini berubah karena saya mengikuti acara “Date with Dad” yang diselenggarakan oleh FOFI pada tahun 2015 dan 2016 secara berturut-turut. Perubahan yang saya peroleh bisa langsung saya praktekkan dan lalui hanya dalam hitungan jam. Bagusnya, meski kedua acara ini sudah lama berlalu, saya masih merasa “hidup” di dalamnya.

Kalau dipikir-pikir, “Bagaimana bisa ya? Bagaimana FOFI bisa membuat saya menjadi lebih dekat hanya dalam hitungan jam?” Sungguh ajaib…

Nah, kalau kamu pernah mengikuti ataupun melihat kedua acara tersebut, di dalamnya ada satu program spesial, yaitu “Love Letters.” Kala itu saya membacakan puisi untuk ayah. Saya ingat setelah saya turun panggung dan berjalan mendekati ayah, beliau melihat saya dengan pandangan yang berbeda. Kedua matanya seperti menyiratkan sesuatu dari dalam hati, seolah mengatakan kepada saya betapa ia rindu kepada saya, sama halnya dengan diri saya merindukan ayah.

Tiba-tiba ayah bertanya kepada saya, “Ayah kaget tiba-tiba Ega -nama panggilan saya di rumah- dipanggil bacain puisi untuk ayah. Itu Ega yang buat sendiri?” Dengan sebuah senyuman, tanpa kecanggungan, saya mengangguk, “Ya, Ega buat sendiri untuk ayah.”

Setelahnya, tau gak, obrolan saya dengan ayah berlangsung panjang begitu saja bagaikan air yang mengalir.  Dimulai dengan pertanyaan sederhana di atas yang tanpa saya sadari berubah menjadi sebuah ‘proses’ kebersamaan saya dengan ayah. Dari obrolan tersebut, akhirnya saya mulai menyadari satu hal, bahwa tidaklah perlu untuk bersikap canggung kepada ayah sendiri.

Ayo, mulai berikan hal kecil untuk ayah kamu, meski beliau tidak meminta. Coba tawarkan secangkir kopi, teh hangat, ataupun air putih ketika ayah sedang membaca koran atau sedang menonton televisi. Beritahukan bahwa kamu membuatnya untuk ayah dan semoga dapat ayah nikmati dengan baik. Bisa juga kamu berinisiatif memasak atau menyediakan makanan untuk ayah. Selain membantu ibu, juga pasti akan membuat ayah kamu bangga.

Saya tahu, semua tindakan tersebut adalah hal-hal kecil dan sederhana, yang mungkin saja ketika memulainya terasa ‘sedikit’ canggung. Tapi, ingatlah bahwa perubahan besar berawal dari perubahan kecil lho. Hingga saat ini, ketika kami (saya, ayah, dan ibu) berkumpul, tidak ada lagi rasa canggung untuk saling bertukar kabar, maupun cerita. Bahkan saat perjalanan pulang di dalam kereta pun, saya dan ayah akan selalu rebutan menceritakan banyak hal. Dan setiap topiknya masih terus menarik untuk dibahas, sampai-sampai kami terkejut ternyata sudah sampai di stasiun tujuan.

So, Sudahkah kamu ngobrol dengan ayahmu hari ini?

20

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *