Mari Membangun Moral Anak

Pada tahun 1950an, seorang psikolog, Stanton Samenow, dan seorang psikiatris, Samuel Yochelson, membeberkan sebuah penemuan penting tentang kriminalitas. Setelah 17 tahun mempelajari ribuan orang dan mengadakan pengkajian pada 250 orang dalam penjara, mereka menemukan bahwa kriminalitas tidak tergantung pada lingkungan, kemiskinan, atau tekanan. Namun hasil dari perbuatan seseorang akibat keputusan moral yang salah. Dalam buku mereka, “The Criminal Personality,” disimpulkan bahwa jawaban untuk mengatasi kriminalitas adalah “Pertobatan dari pelaku menuju kehidupan yang bertanggung jawab.”

Sebuah studi lain dari profesor Harvard, James Q Wilson dan Richard J. Hernstein menyimpulkan hal yang mirip, bahwa penyebab kriminalitas adalah kurangnya pelatihan moral selama masa-masa pembentukan, usia satu hingga enam tahun.

Jadi, bagaimana mengajar anak tentang moralitas dan integritas?

MENANAMKAN NILAI. Tanamkan nilai-nilai yang benar, yaitu kebaikan, tanggung jawab, keadilan, kesetiaan, kejujuran, dll, dan bantu mereka berkomitmen terhadap hal tersebut,  Bila Anda tidak mengambil waktu mendidik anak dengan nilai-nilai yang benar, media dengan senang hati mengambil alih tugas Anda, di mana media memberi contoh tentang balas dendam, kekerasan, kehidupan bebas tanpa tanggung jawab, dll.  Membangun nilai-nilai bukan pekerjaan sampingan ketika ada waktu, melainkan Anda harus tetapkan waktu dan disiplinkan diri. Cari cerita-cerita untuk pengantar mereka tidur, saat makan malam bersama, atau ketika mengantar ke sekolah. Anda harus rajin membuka web, membaca buku, dan mencari bahan-bahan yang menarik. Tapi ingat, menggurui dan menguliahi bukan cara favorit anak-anak.

BIARKAN IA MENGHADAPI HAL YANG SULIT.  Salah satu anak saya bercerita bahwa sebagian teman sekelasnya mencontek, termasuk mereka yang juara! Ia berkata bahwa bisa-bisa rankingnya turun dikarenakan teman-temannya pada mencontek. Saya menjawab, “That’s life!”  Hidup memang tidak adil. Dan kenyataannya memang orang-orang yang berbuat curang bisa menjadi lebih kaya, lebih tinggi pangkatnya, dan hidupnya terlihat mentereng. Tapi saya katakan bahwa saya bangga padanya, karena nilai itu murah, tetapi kejujuran dan karakter itu mahal harganya. Biarkan anak Anda menghadapi hal yang sulit. Dorong dia untuk tetap berkomitmen dan menyelesaikan dengan baik semua yang ia mulai. Hal ini membangun kegigihan dan tanggung jawab.

AJARKAN TANGGUNG JAWAB. Walaupun masih anak-anak, mereka tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Meminta maaf bila bersalah, menerima disiplin, dan melakukan perbaikan. Orang tua sekarang cenderung tidak terima dan intervensi bila anak-anaknya dihukum oleh guru di sekolah.  Mereka protes untuk membela anaknya. Menurut saya ini merugikan, karena kita melepaskan anak-anak dari keharusan tunduk pada otoritas di sekolah. Selama disiplin tidak melanggar koridor yang ditetapkan, anak-anak wajib tunduk. Tanggung jawab berarti juga mengganti kerusakan atau kerugian orang lain akibat perbuatannya, baik disengaja maupun tidak. Ketika salah satu anak saya melanggar aturan yang ditetapkan dengan bermain telepon genggam asisten rumah tangga kami, selain dihukum, ia harus membayar kembali pulsa si mbak dengan tabungannya.

CERITAKAN PENGALAMAN ANDA. Saya pernah bercerita pada anak-anak saya tentang ulangan bahasa daerah yang mendapat nilai 4, padahal seluruh kelas dapat nilai 10 atau minimal 9. Bukan karena bahasa daerah gampang, tetapi karena ulangan dilakukan bergilir dari satu kelas ke kelas lain. Ketika kelas yang satu telah ulangan, mereka memberikan soal pada teman-teman kelas yang lain, sehingga ulangan dimulai dari kelas yang berbeda setiap kali.  Dilema yang sulit, karena sebenarnya bahasa daerah bukan subjek yang menentukan saat ujian, tidak juga digunakan dalam pekerjaan, tetapi membuat rapor saya ada warna merahnya! Ceritakan bagaimana Anda memilih untuk tetap berpegang pada nilai-nilai walaupun bertentangan dengan arus. Saat Anda bercerita, sampaikan juga dilema Anda, dan mengapa pada akhirnya Anda mengambil keputusan tersebut.  Saya juga menceritakan kisah kegagalan saya, agar membantu mereka untuk menghindari kesalahan yang sama.

AJAK BEREMPATI. Libatkan anak-anak Anda untuk membantu orang lain dan berbuat kebaikan, seperti menahan pintu untuk orang lain yang ada di belakangnya, mengambilkan makanan untuk neneknya, menonton pekan olahraga penyandang cacat, dll. Beritahu ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar persaingan, kekayaan, penampilan, dan menjadi seorang yang populer.

BANGUN HUBUNGAN DENGAN TUHAN. Kolumnis Bob Green menulis tentang maraknya kejahatan saat ini yang disebabkan oleh “Death of the Permanent Record.” Dahulu anak-anak SD takut untuk nakal, melakukan hal yang melanggar moral dan etika di sekolah, karena ada buku catatan untuk mencatat semua kenakalan mereka. Bila saat ini hal itu masih diterapkan, orang mungkin akan berkata ini pelangaran terhadap hak asasi. Orang takut melakukan sesuatu yang melanggar moral bila tahu bahwa apa yang mereka lakukan dicatat dan diketahui orang banyak. Tetapi mereka lupa, bahwa sebenarnya memang benar ada Permanent Record atau buku catatan  permanen di surga yang mencatat semua perbuatan kita, baik yang orang lihat maupun tidak, baik yang kita lakukan maupun yang dipikirkan. Ajak anak membangun hubungan dengan Tuhan melalui doa, membaca kitab suci, dan mengikuti ibadah secara teratur. Anda juga bisa ceritakan pengalaman sendiri bersama Tuhan. Dan yang terpenting, doakan anak-anak Anda setiap hari.

20

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *